Kembali ke Kelas
Dari guru TIK di SD, menjadi web developer, lalu kembali ke dunia pendidikan lewat PPG. Perjalanan yang berputar, tetapi akhirnya membawa saya pulang.

Jika melihat perjalanan karier saya, mungkin sebagian orang akan bertanya, sebenarnya saya ingin menjadi guru atau developer?
Saya lulus dari Rekayasa Perangkat Lunak di Universitas Pendidikan Indonesia pada awal 2023. Selama kuliah, saya mencoba banyak hal, mulai dari Studi Independen data science hingga magang di bidang kesehatan digital. Setelah lulus, langkah pertama saya justru membawa saya ke kelas. Saya menjadi guru TIK di SD Darul Hikam Bandung selama satu tahun.
Pengalaman itu sangat berharga, tetapi setelahnya saya memilih mencoba dunia industri. Saya bekerja sebagai web developer di PT Sapta Saritama, membangun berbagai sistem internal perusahaan. Di sana saya belajar bekerja dalam tim, menghadapi tenggat waktu, dan memahami bagaimana perangkat lunak digunakan di dunia nyata.
Namun, ada sesuatu yang terus memanggil saya kembali. Saya merindukan momen ketika seseorang akhirnya memahami hal yang sebelumnya terasa sulit. Saya merindukan kelas.
Akhirnya, pada akhir 2025, saya memutuskan mengikuti PPG Prajabatan Informatika di UPI. Awalnya saya menjalani PPG sambil tetap bekerja, sampai akhirnya saya memilih fokus pada pendidikan dan melanjutkan karier developer secara freelance.
Kini saya menjalani praktik mengajar di SMK Negeri 13 Bandung. Saya mengajar pemrograman mobile kepada siswa yang sebagian dari mereka kelak mungkin menjadi developer. Di titik ini, saya menyadari bahwa perjalanan saya tidak benar-benar berputar tanpa arah. Pengalaman di industri justru menjadi bekal yang membuat saya bisa menceritakan dunia kerja kepada siswa dengan lebih nyata.
Saya tidak lagi melihat guru dan developer sebagai dua pilihan yang bertentangan. Keduanya adalah bagian dari diri saya. Developer dalam diri saya membantu siswa memahami teknologi, sementara guru dalam diri saya membantu mereka percaya bahwa mereka mampu mempelajarinya.
Kembali ke kelas bukan berarti mundur. Bagi saya, ini adalah cara untuk pulang dengan membawa lebih banyak cerita.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.